Home / Cerita Berbagi Skhola / Edy Juspar: Tidak Harus Nunggu Khatam Untuk Mulai Berbagi

Edy Juspar: Tidak Harus Nunggu Khatam Untuk Mulai Berbagi

Skhola in Kampung Halaman Ada acara seru apa di Skhola untuk merayakan pergantian tahun? tanya tim KH via SMS.

Kami hanya berbagi bersama pembelajar kok, tidak ada yang terlalu istimewa, jawab Edy Juspar, Presiden Direktur Skholatanpabatas.

Hanya berbagi bisa saja terdengar mudah dan sepele tetapi sudahkah kita melakukannya?

Itulah yang membuat Edy Juspar dan teman-teman relawan muda mewujudkan Skholatanpabatas, sebuah ruang belajar bersama untuk anak-anak dan remaja di Makassar dan Manado.  Dengan semangat berbagi itu mereka menyebarkan diri ke beberapa titik di beberapa kampung dan panti asuhan. Tahun 2013 kemarin mereka bahkan membuka sebuah titik ruang belajar di Kendari, Sulawesi Tenggara.

“Jadi pada malam perayaan pergantian tahun itu sebetulnya saya dan satu orang relawan sedang berada di Skhola Panama. Panama singkatan dari Panti Asuhan Mattampa Walie. Sore itu seperti biasanya ada kelas belajar science. Setelah kelas usai biasanya kami beraktifitas yang lebih santai seperti nonton bersama tetapi kemudian kami mendapat undangan warga untuk hadir di hajatan tahu baru mereka” jelasnya.

Ketika ditanya apa saja yang bisa “dikenang” dari 2013, Edy cukup bingung untuk menjawab. Bukan karena tidak ada yang bisa dikenang atau terlalu banyak yang ingin dikenang melainkan ia bingung bagaimana menuturkan rasa syukur dan bangga sekaligus kepada semua pihak yang telah mendukung Skholatanpabatas selama 1 tahun itu.

“Beberapa guru di sekolah ada yang terkejut mendapati siswa-siswanya mengungguli teman-temannya di kelas. Guru-guru tersebut kemudian mengetahui bahwa siswa-siswa unggul yang dimaksud ternyata adalah teman-teman yang belajar bersama para relawan di Skhola ” papar Edy.

Yang lebih membanggakan menurut Edy adalah anak-anak usia sekolah yang juga senang berbagi ilmu kepada teman dan adik-adik tingkatnya di ruang Skholatanpabatas.

“Ada yang masih kelas 6 SD, ada juga yang sudah SMA, mereka membantu teman sebaya dan juga adik-adik tingkat mereka belajar Bahasa Inggris, Matematika dan lainnya. Jadi secara tidak langsung mereka juga menjadi relawan pengajar atas keinginan mereka sendiri” jelas Edy.

Apa yang tim KH dengar dari cerita Edy tentang teman-teman yang berbagi di ruang belajar alternatif seperti Skholatanpabatas membuktikan bahwa tidak musti menunggu uang yang melimpah, kedudukan yang tinggi atau menunggu terkenal untuk berbagi kepada sesama. Semangat ingin menjadi lebih baik bersama-sama (bukan hebat sendirian) sudah dicontohkan oleh sikap-sikap spontan anak-anak dan remaja di Skholatanpabatas.

Jadi apa nih rencana 2014? tanya tim KH.

“Kami masih membutuhkan banyak relawan. Kami memaklumi teman-teman yang harus datang dan pergi sesuai waktu dan kesibukan masing-masing, namun tanpa relawan, kamipun tidak bisa berjalan sampai dengan hari ini” ungkap Edy.

Skholatanpabatas juga berencana membuat perpustakaan di tahun 2014 sehingga membuka kesempatan buat siapapun untuk mendonasikan buku untuk mereka.

Nah, jika tertarik menjadi relawan, mendonasikan buku atau aktifitas berbagi lainnya, silahkan kontak Mas Edy dan teman-teman di Skholatanpabatas via[email protected] atau follow twitternya di @skhola_stb

(Photo: Skhola Deppasawi, courtessy of Skholatanpabatas)

Sumber asli: http://www.kampunghalaman.org/berita.php?id=577

About Skholatanpabatas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*