Home / Cerita Berbagi Skhola / *Semangat Berbagi dari Skhola KAI*

*Semangat Berbagi dari Skhola KAI*

Hari ini adalah hari pertama saya berbagi di skhola tanpa batas. Saya dan Yusuf yang sama sama relawan baru ditempatkan di skhola KAI, skhola yang diberi nama sesuai dengan nama pemilik tempat yang digunakan untuk berbagi. Sesuai rencana sebelumnya, kami relawan baru awalnya akan didampingi oleh relawan lama. Tapi ternyata relawan yang mendampingi kami tidak sempat hadir karena ada kegiatan penting. Akhirnya hanya saya dan Yusuf yang berbagi hari ini.

Berbagai pikiran berkecamuk di benakku sepanjang perjalanan ke skhola KAI, terlebih lagi lokasi tersebut belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Saya terus berpikir kegiatan apa yang harus saya berikan, apakah adik-adik siap dan semangat hari ini setelah minggu lalu waktu berbagi ditunda.

Sekitar pukul 10.30 kami tiba di skhola KAI, tempat berbagi masih sepi. Hanya ada sekitar 4-5 orang anak yang bermain di sekitar rumah penduduk. Tiba-tiba sekelompok ibu berteriak kepada anak-anak tersebut, memberitahu bahwa gurunya sudah datang. Tiga orang anak laki-laki berambut pirang yang berumur sekitar 8 tahun berlari menghampiri kami. Mungkin kami terlihat asing bagi mereka sehingga salah satu dari mereka menanyakan dimana kakak-kakak yang lainnya. Saya terkesan ternyata mereka sangat setia menunggu kehadiran kakak-kakak relawan. Kami menjelaskan kalau kakak-kakak yang lain tidak sempat hadir hari ini. Saya berharap hal itu tidak menyurutkan semangat mereka.

Dari 3 orang, semakin bertambah hingga sekitar 7 anak yang hadir hari ini. Semua pikiran yang dari tadi mengganjal seolah sirna melihat semangat mereka untuk belajar.

Ketika ditanya dan diminta mau belajar apa dan bawa buku apa saja, dengan cepat mereka berlari pulang kemudian kembali dengan menunjukkan setumpuk buku pelajaran yang terdiri dari beberapa buku matematika dan bahasa Indonesia.

Pada awalnya semua ingin belajar perkalian. Lama-kelamaan ada beberapa yang minta diajarkan  cara menulis angka dan huruf  kecil karena kebanyakan dari mereka menulis dengan huruf kapital.

Di anatara mereka ada sepasang anak kembar berusia 7 tahun yang sangat tertarik untuk belajar perkalian, nisra dan nisri. Mereka bersaing mana yang lebih banyak mengerjakan soal yang saya berikan dan terus meminta soal. Keduanya sama sekali tidak tertarik untuk belajar menulis seperti teman-temannya yang lain.

Setelah saya amati, ternyata mereka sama sekali belum tahu membaca. Ketika saya meminta untuk menuliskan nama di kertas tugas masing-masing, dengan lancar mereka menuliskan nama lengkapnya. Sepintas saya memperhatikan, sepasang kembar ini bukan tahu membaca tulisan nama mereka, tetapi menghapal urutan hurufnya karena sudah terbiasa.

Dalam hati saya bergumam, inilah tantangan di skhola KAI kali ini. Sepasang kembar ini harus tertarik dan terbiasa untuk belajar membaca. Apa lagi mereka sudah duduk di bangku SD menjelang kenaikan kelas ke kelas 2. Mereka harus berkembang dengan kemampuan membaca dan berhitung yang seimbang. Di sinilah kami harus belajar bagaimana membuat mereka tertarik belajar hingga akhirnya bisa membaca. Harapan saya kedepannya, semoga perjalanan kami dihari-hari berikutnya tetap dan terus semangat. Inilah cerita dari skhola KAI hari ini.

Penulis: Mukarramatul Amriani, relawan skhola KAI 2018

 

About Skholatanpabatas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*